Contact us      Link     Video          


           
Pengadaan Barang & Jasa

Current Articles | Categories | Search | Syndication

MEMAHAMI KINERJA TV CAMERA pada LIROD MK2

LIROD (Lightweight Radar Optronic Director) berfungsi sebagai tracker untuk sasaran atas air ataupun udara pada jarak pendek dan menengah. Untuk saat ini, keefektifan LIROD masih digunakan sebagai tracker pada kapal Kelas Diponegoro (Sigma) dan Kelas Hiu. LIROD menggunakan dua buah sensor, yaitu K-Band Radar dan TV Camera (lihat gambar1). Sekarang, mari dipersempit lagi pembahasannya dan fokus pada TV Camera yang diinstal pada LIROD.
TV Camera pada LIROD merupakan passive tracking digunakan untuk mengetahui Baringan dan Elevasi suatu target yang mempunyai jangkauan antara 10 m – 20 km. Sangat cocok digunakan untuk melaksanakan tracking pada kondisi Radar Silence. Selama ini penjelasan mengenai LIROD sudah sering, namun terbatas pada domain opera-sional. Pada kesempatan ini penulis mengajak pembaca untuk memahami dari sisi teknis, mulai dari saat TV Camera melaksanakan identifikasi obyek, yang kemudian di proses dalam Host Pro-cessing, sampai dengan ditampilkan pada display namun dengan bahasa yang mudah untuk dipahami oleh pembaca dari berbagai background.
Dalam pengetahuan teknik digital, nilai suatu parameter akan selalu di konversi menjadi nilai “0” dan “1”, sehingga relatif hanya angka tersebut yang dikenal. Tentunya penerapan teknik tersebut sudah sangat luas, termasuk pula terhadap Camera LIROD saat menangkap suatu obyek. Obyek yang ditangkap oleh camera yang kemudian akan melalui host processing hanya akhirnya hanya dikenali sebagai BLACK and WHITE (0 dan 1). Dalam hal ini komputer akan membuat suatu batasan yang disebut sebagai treshold level terhadap warna suatu obyek yang bisa memisahkan bahwa warna tertentu ke arah gelap akan dikategorikan sebagai BLACK (0), dan warna tertentu ke arah terang akan di kategorikan sebagai WHITE(1). Namun tentunya pemisahan ini ada sedikit kendala terhadap warna yang benar-benar diantara keduanya yang tidak masuk kategori 0 ataupun 1. Sehingga perlu dibuat suatu kesepakatan bahwa grey area tersebut akan dimasukkan ke 0 atau 1, dan ini terserah designernya. Metode diferensiasi yang digunakan dengan cara demikian dalam istilah digital dinamakan quantisasi (lihat gambar 2).
Secara teknis, penjelasannya diuraikan sebagai berikut. Sebagai sample, BLACK menggunakan referensi 0 VOLT, sementara WHITE menggunakan referensi 5 VOLT. Berarti ada warna antara, yakni dari 2 Volt sampai dengan 4 Volt yang bisa dikatakan sebagai wilayah Grey/abu-abu. Dan dengan adanya nilai ini, computer tidak akan mengenali. Makanya dibutuhkan suatu refrensi (sembarang) misalnya 2.5. Sesuatu apabila diatas 2.5 berarti WHITE, dan dibawah 2.5 adalah BLACK. Sedang-kan 2.5 sendiri bisa diikutkan dimana saja.
Namun demikian, kuantisasi cara demikian belum cukup. Karena akan ada kembali masalah baru. Seandainya di suatu langit biru saat ada pesawat lewat, maka pesawat pasti akan lebih BLACK dari langit. Dan komputer yang sebelumnya di set bahwa WHITE adalah 1 akibatnya tidak mengenali nilai BLACK yang berarti 0. Maka dari itu, ada teknik lagi namanya Inverted Quantized. Sehingga computer akan melihat BLACK tersebut sebagai 1 dan sisanya adalah Un interesting yang berarti WHITE.
Sekarang tinggalkan sementara mengenai proses quantisasi, dan perhatikan hal lain berupa hubungan antara Computer dengan Processing Screen pada saat LIROD melihat suatu obyek. DPI (Dot Per Intensity) screen yang digunakan pada LIROD mempunyai Resolusi sebagai berikut (lihat gambar 3).
- Jumlah dot dihitung secara Horizontal dihitung dari kiri ke kanan adalah 512 dot.
- Sedangkan jumlah line dari atas ke bawah atau secara Vertical adalah 625 line.

Adanya angka 512 Dot dan 625 Line adalah bahwa Camera terdiri dari sensor optik  yang diterjemahkan oleh computer dengan output Video Format. Pada Video Output Format tersebut, per detiknya bisa mengakses sampai dengan 25 picture (25 pic/s atau 25 Hz). Tiap picture itulah yang berisi 625 Line. Bagaimana secara teknis Camera bisa mengidentifikasi suatu Obyek? Melalui proses interlace, pengambilan frame menggunakan perbandingan 2 banding 1. Maksudnya adalah bahwa dari 625 Line atau Frame tersebut, pada frame pertama diambil adalah yang ganjil dengan jumlah 312.5, dan diikuti kemudian frame genap dengan jumlah 312.5, sehingga jumlah total adalah 625 Frame. Benda yang di-tangkap camera tersebut akan dibaca oleh computer untuk ditampilkan ke Format Video secara Frame per Frame, namun tidak langsung urut mulai dari Frame 1, 2, 3, 4, ...625. Sebagaimana kita ketahui bahwa Interlacenya adalah 2 : 1, maka di dahulukan Frame yang ganjil dulu. Interlace adalah suatu teknik yang digunakan pada TV atau Monitor Komputer dengan melihat resolusi secara vertikal yang dicapai dengan mendahulukan Odd Frame dulu sampai dengan selesai, yang diikuti kemudian dengan Even Frame. Sedangkan untuk penghitungan Dot Resolusinya yang berjumlah 512 tersebut menggunakan Dot Counter.
Dengan menggunakan Counter tersebut, maka bisa mengetahui posisi tiap-tiap Dot, sehingga dibentuklah suatu koordinat (X,Y) yang menghubungkan antara Dot dengan Frame (lihat gambar 4). Sekian Dot adalah koordinat X, dan sekian Frame adalah koordinat Y.
Asumsikan pada saat Camera mendapatkan suatu obyek (tanda Ï%) pada gambar 4. Langkah pertama adalah menentukan koordinat yang ada, yakni mencakup pada daerah square/kotak tersebut. Dengan melihat koordinat masing-masing yang ada pada area kotak tersebut, maka didapat tabel 1 dengan koordinat sebagai berikut :
Video dengan nilai “1” adalah jumlah atau banyaknya dot. Besar kecilnya kotak tersebut adalah besar kecilnya obyek yang ditangkap oleh camera. Sehingga hasilnya adalah berikut:
- Jumlah total koordinat Dot (ÓD), sehingga ÓD = 36.
- Jumlah total koordinat Frame (ÓL), sehingga ÓL = 27.
- Jumlah total banyaknya Dot (V), sehingga ÓV = 9.

Rumus untuk menentukan Center adalah Koordinat (ÓD/ÓV, ÓL/ÓV). Sehingga didapat koordinat Center dari square tersebut adalah (4,3).
Sekarang kembali lagi pada Center dari TV Camera. Dengan Dot = 512 dan Frame = 312, maka tengah-tengah nya adalah 512/2 dan 312/2, maka di dapat koordinat ada pada (256, 156). Sehingga penghitungan  Delta Bearing (ÄB)  dan Delta Elevation (ÄE) suatu obyek bisa diketahui, yaitu ÄB = 256 - 4 dan ÄE = 156 – 3, (lihat gambar 5).
Setelah sekian banyak proses, timbul permasalahan baru misal, bagaimana kalau Camera menangkap dua buah obyek yang berbeda posisi? Bila menghadapi masalah tersebut, maka akan diambil nilai Cross Section pada posisi keduanya, sehingga akan diambil tengah-tengahnya. Dengan posisi demikian, maka posisi obyek tidak bisa dihitung tepat oleh komputer. Untuk mengatasinya, dibuatlah suatu Gate (lihat gambar 6 ).
Dengan adanya Gate tersebut dimaksudkan bahwa pemonitoran tidak memerlukan sesuatu yang lain selain obyek tersebut. Dengan kata lain bahwa Gate tersebut akan membatasi ketidak jelasan posisi suatu obyek. Gate ini bisa dibuat bermacam-macam ukuran misalnya (156 x 256, 78 x 128, 39 x 64 dst). Sehingga misalnya sasaran hanya mempunyai besar sebesar 9 Dot, maka Gate yang diperlukan hanya 10 x 16.
Dalam pengoperasiannya, Gate ini bisa dipilih secara manual atau otomatis. Bila pemilihan pada otomatis, besar Gate akan mengikuti besarnya obyek secara otomatis.
Demikian gambaran secara sederhana, bagaimana sebuah obyek bisa di gunakan referensi oleh sebuah Camera yang berfungsi sebagai Tracker. Semoga gambaran tersebut bisa menambah pengetahuan para pembaca mengenai suatu peralatan sensor tracking yang berada di KRI.©

posted @ Wednesday, October 21, 2009 8:06 AM by

Previous Page | Next Page