|
|
|
Kerja keras TNI AL dalam membina kemampuan tempur dan secara khusus menyiapkan kekuatan tempur untuk Latgab TNI 2008 memperlihat-kan hasil. Dua senjata strategis yang berupa peluru kendali anti kapal C-802 dan torpedo SUT (Surface and Under Water Torpedo) yang ditembakkan dari jenis kapal yang berbeda dengan tepat menghantam sasarannya.
Sejak krisis ekonomi dan pemberlakuan embargo senjata, menggunakan persen-jataan strategis semacam rudal menjadi barang mewah bagi TNI AL. Pada tahun – tahun sebelumnya TNI AL me-nembakkan sejumlah jenis rudal anti kapal semacam Exocet MM38 dan Harpoon yang sudah expire. Hasilnya pun dapat diduga, rudal bisa meluncur tapi tidak dapat menghantam sasaran. Keter-gantungan teknologi alut sista yang harus dibayar mahal oleh TNI AL yaitu menurunnya ke-mampuan tempur.
Di tengah keterbatasan dukungan anggaran pertahanan, jajaran TNI AL tetap berkreasi untuk mengembalikan kemampuan tempur alut sista-nya bahkan meningkatkannya. Salah satu program tersebut adalah menyiapkan beberapa persenjataan angkatan laut agar tetap dapat diandalkan. Satu diantaranya adalah torpedo SUT yang aslinya dibuat di Jerman. Namun dengan pro-gram alih teknologi, torpedo yang bisa diprogram untuk menghantam sasaran bawah air dan kapal permukaan ini, bisa dibuat di PT Dirgantara Indonesia (PT DI).
Selama ini torpedo jenis ini dipasang di kapal – kapal selam TNI AL (KRI Cakra dan KRI Nanggala) dan kapal cepat torpedo (KRI Ajax dan KRI Singa) serta korvet latih KRI Ki Hajar Dewantara. Selama ini jajaran persenjataan dan elek-tronika angkatan laut mampu memelihara kemampuan sen-jata yang mampu menghantam sasaran hingga jarak 10 km ini. Cara kerja torpedo SUT cukup unik, platform peluncurnya ma-sih bisa mengendalikan laju senjata ini melalui serat optik, dan apabila homingnya (akus-tik-magnetik) meyakinkan ada-nya sasaran yang benar-benar dituju, maka kawat itu dilepaskan dan senjata mencari sendiri sasarannya hingga menghantamnya atau berhenti bila bateri penggeraknya habis.
Dari rangkaian uji coba pe-nembakan SUT, 90% berhasil mengenai sasaran. Dengan demikian tidak mengherankan apabila KRI Cakra yang diberi kepercayaan menembakkan torpedo pada Latgab TNI 2008, secara meyakinkan me-laksanakan tugas dengan sempurna. Eks-KRI Karang Galang terbelah dua bagian dan tenggelam.
Jadi Kapal Cepat Rudal
Kisah lain yang lebih me-narik adalah mengubah se-buah kapal patroli menjadi kapal tempur ringan berpeluru kendali. Kapal tersebut adalah KRI Layang, satu dari 12 unit FPB-57 Nav yang dibangun PT PAL Indonesia. Ide meningkat-kan kemampuan tempur kapal jenis offshore patrol vessel ter-sebut didasarkan atas kurang-nya unsur-unsur striking force TNI AL yang berintikan kapal selam, fregat, korvet dan kapal tempur ringan (kapal cepat tor-pedo dan kapal cepat rudal).
Kapal tempur jenis terakhir ini sangat cocok untuk berope-rasi di perairan sempit antar pulau. Dengan taktik hit and run fast attack craft ini mampu menenggelamkan kapal pe-rang berukuran besar. Pada tahun 1970-an kapal perusak Israel Eliath tenggelam oleh kapal-kapal tempur ringan AL Mesir, demikian juga kapal perusak PNS Khaibar dika-ramkan oleh sengatan rudal kapal – kapal tempur ringan AL India. Saat ini TNI AL hanya memiliki enam kapal tempur ringan yang dibina oleh Satuan kapal Cepat yaitu empat kapal cepat rudal klas Keris, dan dua kapal cepat torpedo FPB-57 klas Ajax.
Up Grading Alutsista ini merupakan program baru bagi TNI AL. Setelah melalui kajian kelayakan oleh jajaran libang angkatan laut bekerja sama dengan Cina Propulsion sejak tahun 2000dan ketersediaan anggaran, rudal C-802 buatan Cina yang disebut-sebut memi-liki kemampuan setara dengan Exocet menjadi pilihan TNI AL. KRI Layang mendapat giliran perdana penerapan program ini. Sepasang ru-dal yang sudah ter-integrasi dengan pusat informasi tempur kapal siap dioperasikan. Per-airan Sangatta jadi saksi sukses jerih payah TNI AL da-lam meningkatkan kemampuan tem-pur alut sistanya. Sebuah C-802 meluncur dan meng-hantam sasaran atas air sejauh 120 km.
Kapal patroli yang kemam-puan azasinya untuk fungsi-fungsi konstabulari kini men-jelma menjadi kapal kombatan kecil yang mampu mengancam kapal perang lawan yang lebih besar. Selain sejumlah kapal FPB-57, TNI AL juga meren-canakan mempersenjatai ka-pal patroli PC-40 (klas Viper) hasil rekayasa Dislibangal dan dibuat di Fasharkan TNI AL dengan rudal yang sama atau rudal anti kapal yang berukuran lebih ringan semacam C-702.©
Previous Page | Next Page