Contact us      Link     Video          


           

Current Articles | Categories | Search | Syndication

Kendalikan Perilaku, Cegah HIV/AIDS

".....sejak 2006 di RSAL Dr. Ramelan Surabaya anggota TNI aktif meninggal karena HIV/AIDS rata-rata 2 orang tiap 3 bulannya...."

Penulisan artikel tentang HlV/AIDS barangkali sudah yang kesekian kalinya, penulis berharap pembaca tidak bosan karena yang penulis sampaikan ini adalah fakta di lapangan yang membuat kita prihatin.

Sejak berdirinya klinik VCT (Konseling dan tes HIV sukarela) RSAL Dr. Ramelan Surabaya secara efektif tahun 2006, sudah ribuan anggota TNI AL dan masyarakat umum yang menjalani test darah HIV. Sebanyak 158 orang positif HIV. Dari jumlah ini 33 orang sebagai militer aktif, 1 orang PNS, 8 orang istri anggo-ta dan 2 orang balita dan anak prajurit. Yang memprihatinkan adalah diantara 8 orang istri prajurit tersebut ternyata ada yang didapat dari bukan suaminya sendiri. Dari 33 orang militer yang positif HIV/AIDS, 15 orang telah meninggal dunia karena penyakitnya, yang semuanya didapat dari sex bebas/jajan. Penyakit ini tidak mengenal strata pangkat terbukti yang kena baik tamtama, bintara maupun perwiranya.

Apakah sejumlah itu?

Kemungkinan besar jauh lebih besar dari angka yang ditemukan diatas, seperti halnya fenomena gunung es. Hal ini bisa terjadi oleh karena berbagai faktor antara lain:

- Seseorang belum tahu dirinya terinfeksi karena masih merasa sehat dan normal.

- Masih fase jendela sehingga test darah bisa negatif.

- Stadium awal dari penyakitnya sehingga tidak ada gejala.

- Tidak mau tahu

- Mengobati diri sendiri/alternatif

- Berobat di luar fasilitas kesehatan TNI-AL

Kendala psikologis seseorang tidak mau pergi ke rumah sakit / konsultasi diri setelah melakukan sex bebas berisiko karena beberapa alasan antara lain:

- Takut akan penyakitnya akibat informasi yang tidak lengkap

- Takut ketahuan orang lain, karena penyakit HIV/AIDS masih mendapat stigma yang dikaitkan dengan perlakuan diskriminatif, dikucilkan, aib keluarga dan karir.

Dampak sosial penyakit HIV/AIDS

Secara klinis tentu bisa timbul komplikasi berat. Tetapi yang tidak kalah hebatnya adalah dampak sosial yang luas seperti aib keluarga, malu, harga diri hancur, mertua, anak istri dan saudara sedih semua, di-kucilkan teman dinas, bahkan ketika meninggalpun bisa ditolak warga sekitar.

Dampak psikiatris (kejiwaan)

Umumnya orang dengan HlV/AIDS mengalami depresi (suasana perasaan yang jatuh), sehingga memperberat penyakitnya bahkan kematiannya akibat sistem kekebal-annya cenderung menurun (imuno-compromized) sehingga kita upaya-kan jangan sampai jatuh depresi. Konflik dengan istri atau suami, kua-litas hidup rendah, pikiran bunuh diri bahkan ada yang berperilaku agresif, sehingga sering disertai dengan perceraian, pengeluaran ke-uangan meningkat, kepercayaan orang lain menurun, masa depan suram, peran keluarga berubah dsb.

Prajurit TNInAL termasuk risiko tinggi terkena penularan HIV lewat sex bebas, oleh karena:

- Mobilitas penugasan tinggi ke daerah-daerah transit

- Sering pisah keluarga

- Stress tinggi

- Karakter prajurit cenderung agresif

- Kebijakan "harm reduction" masih setengah hati (kontro-versial)

- Fakta : mencegah HlV dengan cara instruktif terbukti kurang efektif

Kenapa seseorang sudah tahu bahayanya, risikonya, sex bebas dilarang agama dan dinas tetapi tetap melakukan sex bebas berisiko?

Secara psikodinamika berka-itan dengan sumber daya penye-suaian diri seseorang yang didapat dari kekuatan daya tahan mental saat menghadapi situasi "kritis" (ada keinginan yang kuat dan ada kesempatan), pengembangan mekanisme koping yang bisa didapat dari psikoedukasi termasuk pemahaman yang benar dan menyeluruh tentang HIV/AIDS, norma-norma yang tertanam serta kema-tangan kepribadian.

Pada umumnya mekanisme perilaku "JAJAN" seseorang didahului oleh depresi yang terselubung akibat stress kehidupan. Stress yang tidak terkelola dengan baik dapat menimbulkan depresi dengan berbagai gambaran keadaan, seperti perubahan perilaku oleh karena kontrol ego dan super ego (norma-norma) kurang baik, sehingga timbul "sex agresif".

Kebijakan Harm Reduction

Harm Reduction adalah upaya mengurangi kasus HIV/AIDS dan dampaknya. Filosofisnya bahwa, kita tidak mungkin menghapuskan perilaku sex bebas berisiko sepanjang masih ada hukum demand and supply, sebagaimana upaya meng-hapuskan prostitusi di muka bumi ini. Apabila upaya-upaya yang benar telah kita lakukan mulai dari penyuluhan, pembinaan mental rohani/ keagamaan, bahkan sanksi yang keras dsb masih jebol maka salah satu pertahanan terakhir adalah "hubungan sex terlindung". Di Thailand berhasil menekan angka HIV/AIDS karena pro-gram ini. Kendala di Indonesia adalah masih banyak elemen masyarakat yang mencurigai bahkan menolaknya. Misalnya menolak keberadaan ATM kondom atau ATM Jarum suntik narkoba yang dinilai justru akan memberi peluang melakukan sex bebas atau narkoba. Jangan-kan itu, penulis memberi ceramah pun ada yang "protes" karena "dituduh" mengajari sex bebas tapi aman.

Tapi ingat, seseorang akan te-tap melakukan sex bebas bila di-dorong oleh niat yang lebih kuat dari mekanisme kopingnya, tanpa perlu diajari atau di"ceramahi" ka-rena itu hukum naluriah. Tapi perlu diingat pula yang bersangkutan hidup tidak sendirian, ada anak-istri dan anggota TNI yang produktif yang harus diselamatkan.

Kebijakan Harm Reduction antara lain menganjurkan mengalihkan sex bebas ke Onani, petting atau pemakaian kondom yang benar dan tepat seperti; pakai kondom sebelum melakukan sex bebas, pakai kondom saat oral sex (karaoke) karena tersedia kondom berbagai rasa seperti rasa strawbery, coklat dsb. Hati-hati pemakaian kondom pada penis yang dilumuri hand body, minyak pijat, lotion dll karena bisa bocor.

Tips mengelola dorongan sex liar (libido)

- Melatih diri untuk mengenali kondisi masa-masa kritis

- Kembangkan mekanisme penawar stress dengan : curhat, spiritualisasi kehidupan, mengembangkan hobi, visualisasi keluarga dan perencanaan masa depan ke-luarga.

- Bila sex addict ( dorongan sex kuat)Stop-Look-Listen: dengarkan kata hati yang dalam, kembangkan pikiran; positif, objektif dan opti-mis. Dan cobalah autohipnosis dengan relaksasi otot dan pikiran, konsentrasi pada nafas, buang pikiran negatif, nasehat diri, doa-doa atau zikir.

Bila upaya diatas juga gagal : pakailah kondom

-   Per kesempatan pertama setelah melakukan sex bebas konsultasikanlah diri anda ke poll VCT terdekat.

Klinik VCT Lumba-lumba Rumkital Dr. Ramelan

Klinik ini efektif bekerja sejak 2006 bekerja sama dengan LSM internasional serta LSM resmi di Surabaya dan Dinas kesehatan propinsi Jawa timur dan Kota Surabaya. VCT (Voluntary Con-seling and Testing) merupakan upaya terobosan "jalan tengah" dengan tujuan menekan kasus HIV/AIDS di lingkungan TNI mau-pun masyarakat. Tentu kegiatan ini tidak berdiri sendiri tetapi secara simultan melibatkan aspek lainnya seperti pembinaan mental agama, hukum, advokasi dsb. Filosofis dibentuknya VCT oleh karena beberapa fakta:

- Penyakit HIV/AIDS mendapat stigma yang kuat di masyarakat sehingga penderitanya sering di-perlakukan diskriminatif.

- Terbukti pengendalian HIV/AIDS dengan instruktif/cara-cara keras tidak efektif dan ternyata dengan cara persuasif sukarela lebih efektif dan efisien.

Kegiatan Klinik VCT antara lain menyediakan informasi yang kom-prehensif tentang HIV/AIDS, ak-ses berobat, menjamin keraha-siaan, konteksnya konseling se-hingga terhindar dari stigma.

Tips terhindar dari HIV / AIDS

Ingat ABCDEnda jauhi sex bebas

A

B

C

D

E

dukasi diri di klinik VCT. ©
ijauhkan diri dari Narkoba
egahlah dengan kondom bila terpaksa
ersikap setia pada istri

posted @ Tuesday, November 17, 2009 7:44 AM by

Previous Page | Next Page