Contact us      Link     Video          


           
Berita

Current Articles | Categories | Search | Syndication

Kesehatan Jiwa Dan Deteksi Dini Gangguan Jiwa Prajurit

Kesehatan Jiwa Dan Deteksi Dini

GANGGUAN JIWA PRAJURIT

Oleh: dr. Ketut Tirka Nandaka, SpKJ

Dokter Spesialis Jiwa RSAL Dr. Ramelan Surabaya

Kesehatan jiwa merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kesehatan individu secara menyeluruh. WHO mendefinisikan yang dimaksud sehat adalah keseluruhan sehat secara fisik, mental bahkan social. Sedangkan kesehatan jiwa militer adalah upaya-upaya kesehatan dengan menekankan pada aspek kejiwaan dengan pendekatan dan berorientasi kemiliteran. Dasarnya adalah fakta perbedaan komunitas militer dengan masyarakat pada umumnya dari segi-segi kepribadian yang terbentuk, lingkungan militer dengan dinamika yang tinggi serta tuntutan profesi kemiliteran. Dalam dunia kedokteran jiwa atau psikiatri merupakan subspesialis tersendiri yaitu psikiatri militer dimana seorang dokter psikiatri harus menjalani pendidikan lanjutan. Sayang pendidikan ini tidak ada di Indonesia sehingga sampai saat ini TNI-AL belum mempunyai seorangpun psikiater khusus militer.

Gangguan jiwa umumnya dapat dicegah apabila ditangani secara dini. Upaya pencegahan umumnya ada tiga yaitu pencegahan secara primer ini dilakukan saat rekrutmen, secara sekunder deteksi dini oleh orang dekat atau atasan dan tersier oleh profesional di rumah sakit. Tentu pendekatannya berbeda dengan penyakit badaniah. Gangguan jiwa di lingkungan militer umumnya didahului oleh adanya stressor psikososial kemudian diikuti oleh perubahan perilaku, pola pikir, cara berkomunikasi dan perubahan emosi. Dengan mengetahui dan mengenal tanda dan gejala awal dari gangguan jiwa diharapkan angka gangguan jiwa dapat ditekan.

Epidemiologi Gangguan Jiwa Militer

Gangguan jiwa pada prajurit umumnya timbul akibat keterkaitan dua hal penting yaitu faktor daya tahan mental dan faktor stressor . Seseorang tidak muncul gangguan jiwa walaupun terpapar stressor yang berat bila daya tahan mentalnya kuat. Sebaliknya bila daya tahan mental seseorang rendah maka stressor yang ringan pun dapat menimbulkan gangguan jiwa. Begitu pula seseorang yang kepribadiannya berintegrasi baik dapat timbul gangguan jiwa bila : a. Stressornya sangat berat, misalnya kematian beberapa keluarga sekaligus, , b. Stressornya dapat ringan tapi berlangsung lama, misalnya cekcok rumah tangga yang terus menerus, c. Stressornya spesifik terhadap seseorang, misalnya di nonjobkan dsb.

Gangguan jiwa / sakit jiwa banyak jenisnya mulai yang ringan sampai yang berat. Paling tidak ada 10 kelompok jenis gangguan jiwa. Tetapi dibidang kedokteran jiwa militer hanya meliputi 7 kelompok yaitu:

  1. Gangguan jiwa yang diakibatkan penyakit otak dan kondisi medis umum, misalnya: cedera otak, penyakit pembuluh darah otak, infeksi temiasuk HIV/AIDS, malaria otak atau kondisi heat stroke / dehidrasi.
  2. Penyalahgunaan NARKOBA/NAPZA terutama golongan amfetamin yang dapat menimbulkan gangguan paranoid.
  3. Gangguan jiwa psikotik misalnya skizofrema, reaksi psikotik akut (istilah di lapangan : "kesambet") , dsb.
  4. Gangguan emosi misalnya depresi, bipolar, amarah
  5. Gangguan neurotic, gangguan terkait stressor, somatoform ( keluhan badaniah) misalnya gangguan panic, histeris, stress pasca trauma, fobia, "Dasmil Shock", " Barack ShocK'
  6. Gangguan-gangguan psikosomatik dan factor fisiologis misalnya insomnia, disfungsi sex, terror tidur (ketindihan) mimpi buruk, sommambulisme
  7. Gangguan kepribadian dan perilaku misalnya psikopat, impulsif, judi patologis, mengutil, homosex, pedofilia, sadistic.

Dari jenis gangguan jiwa diatas yang menimbulkan masalah kompleks dilingkungan militer adalah Skizofrenia, yaitu gangguan jiwa berat yang ditandai dengan gangguan yang fundamental dan fungsi pikiran, perasaan, perilaku dan persepsi Biasanya gangguan ini muncul setelah penugasan. Berbeda dengan gangguan jiwa reaksi psikotik akut maupun gangguan beradaptasi ( baca : Dasmil Shock/ Barack Shock) yang timbul ketika DIKSARIT atau masa orientasi di kesatuan.

Gejala skizoftenia antara lain adanya waham paranoid, halusinasi pendengaran yang memerintah pasien melakukan sesuatu ( ini paling berbahaya), emosi yang labil dan tidak harmonis serta perilaku yang tidak wajar. Penyakit ini umumnya kronis, kambuhan, tetapi dapat dikendalikan dengan obat dalam jangka waktu yang lama. Perjalanan penyakitnya bisa timbul depresi berat sehingga cenderung ada keinginan bunuh diri. 50% pasien skizofreia cenderung mempunyai ide bunuh diri. Dari angka tersebut 10% sukses melakukan bunuh diri dengan cara- cara yang tidak lazim. Dampak dari gangguan jiwa ini sangat luas antara lain, rumah tangga kacau, hampir 100% cerai, kedinasan sering menimbulkan masalah, perilaku di masyarakat yang sering menimbulkan konflik sehingga mencoreng institusi. Beberapa kasus anggota dengan skizofrenia yang pernah dirawat di RSAL Dr. Ramelan antara lain : KDRT, Merusak fasilitas umum, dikeroyok massa, melawan atasan, membunuh istri, bunuh diri, mangkir/ desersi, melakukan hubungan sex dengan jauji dikawinid dsb .

Tahun 2007 tercatat jumlah anggota TNI-AL yang masih aktif di wilayah timur yang menjalam perawatan oleh karena gangguan jiwa sebanyak 188 orang. 95% golongan bintara dan tamtama. Dengan sendirinya anggota sebanyak itu tidak produktif lagi di militer. Menurut release dari Bank Dunia dan WHO diperkirakan tahun 2015 angka morbiditas yang saat ini penyakit metabolisme menduduki urutan teratas akan digeser oleh penyakit depresi. Untuk itu dalam pembinaan kesehatan khususnya TNI-AL , kesehatan jiwa hendaknya mendapat prioritas paling tidak sama dengan penyakit metabolisme.

JUMLAH PASIEN JIWA ANGGOTA TNI YANG RAWAT JALAN TAHUN 2007; 188 ORANG YANG TERDIRI :

  1. PAMEN : 8 ORANG
  2. PAMA : 6 ORANG
  3. BINTARA : 77 ORANG
  4. TAMTAMA : 97 ORANG

BERDASARKAN JENIS PENYAKIT PASIEN ANGGOTA TNI RAWAT JALAN TAHUN 2007, ADALAH;

  1. SKIZOFRENIA : 121 ORANG
  2. PSIKOSA : 7 ORANG
  3. GMO : 1 ORANG
  4. TENTAMEN SCUICIDE : 1 ORANG
  5. PSIKOTIK : 4 ORANG
  6. DEPRESI : 9 ORANG
  7. CEMAS : 12 ORANG
  8. LAIN-LAIN : 33 ORANG

JUMLAH PASIEN ANGGOTA TNI YANG RAWAT INAP DI PAV VI (JIWA) RUMKITAL Dr. RAMELAN TAHUN 2007 ADALAH : 57 ORANG, YANG TERDIRI:

  1. PAMEN : 1 ORANG
  2. PAMA : 2 ORANG
  3. BINTARA : 18 ORANG
  4. TAMTAMA : 36 ORANG

BERDASARKAN JENIS PENYAKIT PASIEN ANGGOTA TNI RAWAT INAP Dl PAV VI (JIWA) RUMKITAL Dr. RAMELAN TAHUN 2007

  1. SKIZOFRENIA : 37 ORANG
  2. PSIKOSA : 7 ORANG
  3. GMO : 1 ORANG
  4. BUNUH DIRI : 1 ORANG
  5. PSIKOTIK : 2 ORANG
  6. DEPRESI : 1 ORANG
  7. LAIN-LAIN : 8 ORANG

PROSENTASE ANGGOTA TNI RAWAT JALAN Dl POLI JIWA RUMKITAL Dr. RAMELAN TAHUN2007

PAMEN : 4 %

PAMA : 3 %

BINTARA : 41 %

TAMTAMA : 52 %

PROSENTASE ANGGOTA TNI RAWAT INAP Dl PAV VI (JIWA) RUMKITAL Dr. RAMELAN TAHUN 2007

PAMEN : 2 %

PAMA : 4 %

BINTARA : 32 %

TAMTAMA : 62 %

UJI DAN PEMERIKSAAN KESEHATAN JIWA

Dasarnya adalah SKEP PANGAB No.756VI/1982 yang diperbaharui dengan SKEP Panglima TNI No.485/XU dan No.495/XU tahun 2005 tentang jukLak dan juknis uji dan pemeriksaan kesehatan bagi calon dan anggota TNI serta KEP KASAL No. Kep/28 VII/ tahun 1997 tentang Orgapros dan prosedur Diskesal . Undang-Undang Kesehatan RI No-23/1992, pasal 24 tentang kesehatan jiwa, serta Undang-Undang Kesehatan Jiwa No.3 /1966.

Ada tiga komponen penting yang dievaluasi dalam pelaksanaan Urikes terhadap calon dan anggota TNI yaitu : Kesehatan Umum (Kesum ), Kesehatan Militer(Kesmil) dan Kesehatan Jiwa (Keswa) yang dituangkan dalam Rumus Urikes :

 U A B D G J

Keterangan:

  • U : Aspek Kesehatan Umum
  • A B D G : Aspek Kesehatan Militer 

            A : Tungkai atas

            B : Tungkai bawah

            D : Fungsi Pendengaran

            G : Fungsi gigi dan mulut

  • J : Aspek Keswa yang terdiri dari 5 aksis diagnosis yang berorientasi kemiliteran

Banyak pihak bertanya, apakah Keswa " barang " baru ? Tentu tidak. Sebelum tahun 2005 kita tidak melaksanakan pemeriksaan Keswa terhadap calon tamtama dan bintara TNI AL semata-mata masalah teknis yaitu kurangnya tenaga psikiater. Standar pemeriksaan kesehatan jiwa memerlukan wawancara psikiatrik satu per satu sehingga diperlukan jumlah psikiater (dokter spesialis jiwa) yang memadai. Idealnya TNI AL mempunyai dokter spesialis jiwa sebanyak 10 orang (saat ini baru 4 orang).

Adapun tujuan dari Urikes Jiwa adalah:

1. Menemukan kasus adanya sakit jiwa

2. Pada calon anggota : prediksi timbulnya gangguan jiwa apabila berdinas

3. Menekan angka gangguan jiwa ( fungsi preventif)

Domain pemeriksaan Keswa tentu berbeda dengan Psikologi (Psikotest) yakni kesehatan yang menekankan aspek kejiwaan yang terdiri dari :

  1. Aspek klinis : Ada tidaknya penyakit/ gangguan jiwa, Adanya psikopatologi, dan potensi timbulnya gangguan jiwa ( Ref: WHO/ICD, DSM/USA dan Psikiatri Militer )
  2. Aspek kepribadian:

    - Ada tidaknya gangguan kepribadian nyata seperti psikopat, paranoid.

    - Potensi daya tahan kejiwaan terhadap paparan kemiliteian

    - Bibit perilaku berisiko : ceroboh, manik, impulsif

    - Profil imegritas moral

    - Opennes : Keterbukaan

    - Keterbukaan nurani : CONSCIENTIOUSNESS

    - Keterbukaan terhadap orang lain : EXTRAVERSI

    - Kemampuan memegang janji : AGREEABLENESS

    - Neuroticism : Profil tingkat keberanian

  3. Aspek Medis Umum

    - Neurologis : Kelainan fisik, "Tanda-tanda halus " kelainan saraf

    - Kelainan penyakit interistik

    - Kecenderungan penggunaan NAPZA

  4. Aspek Psikososial

    - Mengkaji pola stressor spesifik yang berorientasi pada kegiatan militer khususnya matra laut, Keluarga dan masyarakat.

    - Mengkaji paparan stressor yang potensial timbulkan gangguan jiwa

    - Kemampuan beradaptasi menghadapi dinamika tinggi

  5. Aspek Performance kinerja dikaitkan dengan potensi kesehatan jiwanya.

Metode 5 aksis ini juga digunakan oleh US Navy dan US Marines

EVALUASI CALON ANGGOTA TNI AL

Sejak tahun 2005 lalu calon Bintara dan Tamtama gelombang II telah dilaksanakan pemeriksaan Keswa di tingkat seleksi pusat. Dan survey pemeriksaan Keswa didapatkan hasil antara 10 -20% calon di tingkat pusat tidak memenuhi syarat Keswa sebagaimana metode yang diterapkan. Banyak pihak bertanya, Kenapa Keswa tidak lulus padahal anaknya pintar ? Jawabnya : Tidak sedikit di PAV Jiwa RSAL orang pintar dirawat karena sakit jiwa. Bahkan ada salah satu pasien kami yang sering keluar masuk perawatan jiwa lolos serangkaian tes sampai di Malang mengikuti seleksi tingkat pusat calon Bintara.

Keberhasilan / kegagalan metode pemeriksaan Keswa yang diterapkan dapat dievaluasi dengan memakai indikator jumlah siswa/anggota TNI AL yang sakit jiwa berat skirofrenia. Hasilnya sejak 2005 kasus baru skizofiema sudah tidak ada lagi. Pemeriksaan Keswa tidak menjamin 100% terbebas dan calon menderita gangguan jiwa. Tetapi yang jelas angka gangguan jiwa dapat ditekan seminimal mungkin.

 DETEKSI DINI GANGGUAN JIWA LEWAT PERUBAHAN POLA KEPRIBADIAN

Perubahan Pola Perilaku:

  1. Bolos, mangkir, desersi, pelanggaran.
  2. Perawatan diri dan lingkungan menurun
  3. Menarik diri dari pergaulan : menyendiri, melamun, pandangan kosong, bicara sendiri, tiba-tiba impulsif (acting out), sering menghindar.
  4. Kinerja menurun.
  5. Ketertarikan terhadap tertentu yang tak wajar.
  6. Mudah tersinggung, kagetan.
  7. Pola ibadah menurun atau tidak wajar.
  8. Perilaku mistis : menyepi dikuburan, kedukun.

Perubahan Pola Pikir

  1. Magical thinking tak wajar: ideas of re ference.
  2. Ide paranoid : curiga berlebihan, cemburu, ketakutan tak wajar, merasa yakin istrinya berselingkuh, merasa dirinya diperlakukan tidak adil.
  3. Preokupasi dengan kehidupan masa lalu.
  4. Ide kebesaran diri : merasa diri hebat, keluarga pejabat, bisa mengendalikan nasib orang lain.
  5. Cara pikir yang tidak logis dan tidak relevan.

Perubahan Pola Perasaan (Emosi)

  1. Ketumpulan respons emosi.
  2. Emosi/mood tidak wajar -. ide dengan pikiran.
  3. Meledak-ledak.
  4. Swing mood tidak wajar.
  5. Merasa sepi dikeramaian.
  6. Kecemasan tidak wajar.
  7. Mimpi buruk.
  8. Night terors.

Perubahan Pola Persepsi

  1. Gangguan pencerapan dan panca indera : halusinasi melihat penampakan, penciuman, peradaban dsb.
  2. Kesurupan tak wajar (Trans).
  3. Merasa diri aneh.
  4. Konversi/disosiasi : lumpuh, buta, kejang, vagabound, hilang ingatan.

Gangguan Fungsi Luhur Otak (Kognitif)

  1. Daya ingat, daya pilar, daya visio spatial.
  2. Fungsi executife lainnya.

Perubahan Daya Nilai

  1. Nilai sosial, norma, agama, etika, hukum.
  2. Nilai realitas : kemampuan bedakan khayalan dan kenyataan.
  3. Tilikan diri : memahami gangguan diri.

Penanganan Pertama

  1. Ajak komunikasi/dari hati ke hati.
  2. Bersikap empati : tidak menghakimi, tidak menggurui.
  3. Gunakan pertanyaan terbuka, biarkan dia berbicara bebas, jadilah pendengar yang baik.
  4. Temukan stressornya apa.
  5. Jangan terburu-buru menasehati / mengkritik (latrogenik konflik).
  6. Usahakan menyelesaikan konflik berorientasi tugas / Task oriented.
  7. Catat riwayat kejadian sebelum terjadi pembahan pola kepribadian.
  8. Bila gagal, rujuk ke profesional /Psikiater.
  9. Dokter kesatuan : buat riwayat prodromalnya.
  10. Libatkan keluarga.
  11. Hormati prinsip kerahasiaan medis.
  12. Kasus hukum : Pomal buat surat perminlaan visum et repertum psikiatrikum ditujukan ke Karumkital Dr. Ramelan, dasar UU: Observasi minimal 2 minggu.

Pencegahan Gangguan Jiwa Dalam Keluarga

1. Aspek Biologis

a. Kebiasaan hidup sehat.

b. Makan/minum.

c. Olah raga teratur.

d. Sex sehat dan aman.

e. Jauhi narkoba.

f. Tidur, istirahat cukup.

g. Melatih seluruh panca indera.

2. Psikologis

a. Kebiasaan menghirup udara segar

b. Menikmati kebahagiaan : bersyukur

c. Bersikap tenang, ceria dan senyum

d. Percaya diri yang wajar

e. Berdamai dengan dirinya sendiri : jangan sering kritik diri, hindarkan konflik

f. Menerima kritik orang lain

g. Dapat mengontrol diri dengan pikiran

h. Mempunyai sahabat : suka dan duka

i. Keluarga: silaturahmi

j. Bekerja optimal

k. Menyadari keterbatasan

l. Merasa memiliki yang wajar

m. Bersikap religius, memaknai hidup, spiritualisasi setiap kegiatan atau pekerjaan

n. Biasakan berpikir positif, objektif dan optimis.

3. Sosial

a. Sikap lebih senang memberi dari menerima.

b. Sanggup memaafkan (undoing).

c. Sikap menolong tanpa balasan.

d. Terbuka.

Bahwasannya Ruang Lingkup Kesehatan Jiwa adalah Kesehatan yang terintegrasi dengan penekanan pada aspek kejiwaan. Kejiwaan seseorang tidak dapat dipisahkan dari aspek badaniah maupun sosialnya.©

posted @ Wednesday, April 29, 2009 7:55 AM by

Previous Page | Next Page